Meulaboh & Tsunami : catatan yang tercecer

LIMA hari setelah gempa dan gelombang tsunami memporak-porandakan pesisir Barat dan Timur Provinsi Nangroe Aceh Darrussalam (NAD), 26 Desember 2004, tim advance Artha Graha Peduli (AGP) dari posko Banda Aceh, berhasil memasuki Meulaboh, tujuannya mendirikan posko di Meulaboh. Tim harus lewat udara, karena sarana jalan darat dari Utara dan Selatan menuju Meulaboh terputus.

“Menumpang Chinook, Berbaju Loreng…”

Sabtu, 1 Januari 2005. Matahari sudah di pinggang langit ketika helikopter Chinook milik Angkatan Bersenjata Singapura yang kami tumpangi, menjejakan rodanya di landasan pacu bandara Cut Nyak Dien, Meulaboh, Aceh Barat.

Dari balik pesawat tampak pemandangan yang sangat mengguncangkan hati dan pikiran : landasan pacu retak-retak dan bangunan yang porak-poranda, pohon kelapa berikut akar-akarnya bergelimpangan, dan lumpur bercampur minyak menyelimuti seluruh daratan di sekitar bandara.

Saya terkesiap. Sekonyong-konyong badan saya merinding karena galau menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan itu. Gempa bumi dan gelombang tsunami telah melumpuhkan bandara yang sebelumnya menjadi andalan transportasi udara terpenting di Aceh Barat. Sunyi, centang-perenang, dan nyaris tanpa tanda–tanda kehidupan.

Dengan perasaan yang masih galau, saya menginjakkan kaki di landasan pacu, diikuti oleh dua rekan saya, Ahmady dan Arief Budiman. Tak terlalu lama, belasan anggota TNI berseragam loreng berlari-lari mendekati Chinook. Setelah mendekat, beberapa lalu memberi hormat khas militer kepada kami. Lainnya menuju pesawat dan mulai menurunkan lusinan dus berisi makanan, beberapa drum aftuur (bahan bakar untuk pesawat) dari perut heli super canggih berbaling-baling dua itu.

Dari Kejauhan tampak seorang perwira TNI Angkatan Darat bergegas mendatangi. “Selamat datang di Meulaboh. Saya Kapten Dadang dari Batalyon 623 yang di tugaskan menjaga dan mengamankan bandara ini,” sapanya ramah seraya menjabat tangan saya.

Sambil berjalan menuju truk yan sudah menunggu di ujung landasan, Kapten Dadang menanyakan siapa kami dan apa maksud datang ke Meulaboh. “Kayaknya anda bertiga anggota satgas intel Kopassus ya..?” tanyanya membuka pembicaraan. Saya hampir tertawa keras. Tapi, saya segera maklum mengapa Kapten Dadang menduga kami intel.

Sekilas, penampilan kami memang seperti intel Kopassus. Betapa tidak. Kami mengenakan seragam loreng lengkap dengan topi rimba. Di antar Chinook pula..!

Pada seragam saya tertera nama Irwan dengan tanda pangkat Sersan Kepala. Di seragam Arief, ‘Sunarto’ dengan pangkat Sersan Dua, dan Ahmady, nama ‘Bambang Krido’, pangkat Sersan Dua. Tidak seperti kebanyakan tentara yang berambut crew cut alias cepak, potongan rambut kami sama sekali tidak cepak; Ahmady malah gondrong acak-acakan, sedangkan Arief berkumis, berjenggot, dan berkuncir.

Sesampai di truk, saya jelaskan kepada kapten Dadang bahwa kami bukan anggota TNI atau satgas intel Kopassus, melainkan tim advance Artha Graha Peduli yang di tugaskan mempersiapkan posko AG Peduli di Meulaboh.

Seragam tentara kami pakai semata-mata untuk mengelabui Angkatan Bersenjata Singapura di Polonia, Medan agar kami di izinkan menumpang Chinook yang hari itu akan terbang ke Meulaboh mengantar logistik dan bahan bakar aftuur.

Hingga tanggal 1 Januari 2005 itu, Meulaboh masih di nyatakan daerah terisolir. Tiga jembatan yang menghubungkan Meulaboh-Tapak Tuan dan Medan, ambruk di goyang gempa. Jembatan yang menghubungkan Meulaboh–Calang dan semua jembatan dari dan Banda Aceh juga putus. Praktis satu-satu nya akses ke Meulaboh cuma heli.

Di Lanud (Lapangan Udara) Polonia cuma ada Chinook, yang hanya dipakai mengangkut logistik, pejabat tinggi negara atau anggota TNI. “Jadi, kami terpaksa main akal-akalan agar bisa naik Chinook ke sini. Dan, Alhamdullillah mereka bisa kami akalin,” seloroh saya kepada Kapten Dadang yang tampak tersenyum kecil…

……………..

Langit mulai mendung. Truk yang kami tumpangi perlahan– lahan meninggalkan Bandara Cut Nyak Dien. Sepanjang perjalanan menuju kota, yang terlihat hanyalah hamparan perladangan yang rusak digerus air bah, pepohonan bertumbangan, bangkai-bangkai hewan ternak tergeletak di pematang sawah dan menyebarkan bau busuk yang menusuk hidung, rumah-rumah papan dan surau yang nyaris rata dengan tanah.

Sesekali truk berhenti untuk membagikan biskuit dan air minum kepada para penggungsi yang kami jumpai dalam perjalanan. “Kondisi di pusat kota Meulaboh, lebih parah lagi Bang. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Jumlahnya mungkin sampai belasan ribu, “ ujar seorang tentara.

Saya tidak berkomentar, apa lagi bertanya lebih jauh. Saya hanyut terbawa perasaan, mencoba memahami fakta lain yang lebih parah di banding apa yang sudah saya lihat sejak mendarat di Cut Nyak Dien. Tak terasa air mata membasahi pipi.

Matahari baru saja tenggelam di ufuk Barat ketika rombongan kami tiba di Markas Batalyon 623, di pinggiran Kota Meulaboh. Untuk alasan keamanan, Kapten Dadang menyarankan malam pertama di Meulaboh, kami menginap di markas Batalyon. Tidak banyak yang kami lakukan malam itu kecuali ngobrol dengan beberapa anggota Yon 623 yang menjadi saksi hidup gempa bumi dan tsunami di Meulaboh.

Sementara itu Kapten Dadang, menurut Letnan Dwi yang menemani ngobrol malam itu, pergi ke Markas Kompi C di Daerah Lapang, Meulaboh, untuk melaporkan kedatangan kami kepada Danrem 012 Teuku Umar, Kolonel TNI Geerhan Lantara.

Malam sudah larut, pukul 23.00 wib. Beberapa menit selepas tengah malam, hujan gerimis turun. Angin yang bertiup dari sela-sela jendela membuat kamar kami agak dingin. Rekan saya Ahmady, kami berdua tidur di lantai, sudah lelap dalam pelukan hangat kantong tidurnya. Rekan Arief sudah lebih dulu terlelap. Meskipun badan terasa lelah, mata saya belum juga bisa dipejamkan.

Wajah pilu para pengungsi yang kami jumpai di jalan, membayang lagi di depan mata. Silih berganti, rumah porak-poranda, wajah pengungsi, surau dan gedung sekolah yang rata dengan tanah, bangkai mobil dan hewan ternak, tiang-tiang listrik yang roboh dan menindih rumah-rumah penduduk.

Air mata menetes lagi. Tetapi, saya lalu bisa memahami, bagian tersulit dari menembus isolasi Meulaboh, bukan soal lelahnya menempuh jarak antara Jakarta-Meulaboh. Juga bukan soal sulitnya mengatasi medan, akibat terputusnya sejumlah jembatan, semisal di Bakongan dan Tapaktuan.

Juga bukan soal sulitnya sarana transportasi. Atau membangun keberanian untuk menghadapi, bila GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menebar teror. Menit-menit pertama di Meulaboh menyadarkan saya, bagian tersulit menembus isolasi Meulaboh adalah bagaimana membangun kesadaran spiritual yang dapat merangsang tumbuhnya solidaritas sosial, simpati dan kepedulian yang tulus atas nasib saudara-saudara kita di Meulaboh.

Mereka yang egois, oportunis dan a-sosial tidak akan pernah mampu menembus isolasi Meulaboh. Kendati pun mampu menjejakkan kakinya di Meulaboh, pastilah hatinya di tempat lain. Dan kalaupun mampu melakukan sesuatu di Meulaboh, tujuannya bukan pengabdian kemanusiaan, melainkan untuk mendapat pujian.

Andaipun mereka berada di tengah-tengah rakyat Meulaboh yang sedang berduka, mereka tetap berjarak dengan kedukaan itu dan tak tergerak untuk berempati. Pengalaman menembus isolasi Meulaboh, secara fisik sungguh melelahkan. Menguras tenaga, memeras kreativitas, memompa adrenalin dan mengguncang keseimbangan magis.

Tetapi, kini saya sudah di Meulaboh. Berbaring di atas pangkuan bumi Meulaboh. Diujung kantuk saya berharap bumi Meulaboh menyuntikkan energinya ke tubuh saya agar terbangun di pagi hari dengan badan dan pikiran yang lebih segar.

“Batas Hidup dan Mati Sangat Tipis…”

Pagi 2 Januari 2005, kami diantar ke Markas Kompi C mengendarai ambulans, lengkap dengan pasukan pengawal. Di sepanjang jalan lagi-lagi kami menyaksikan pemandangan yang sangat memilukan ; rumah dan bangunan sekolah yang hancur berantakan. Gedung lembaga pemasyarakatan (LP) nyaris rata dengan tanah.

Kami menyaksikan juga tiang listrik yang roboh, batang yang terhempas dari akarnya dan melintang di tengah jalan. Perahu yang terdampar ratusan meter dari pantai, dan mayat yang bergelimpangan di mana-mana dan menebarkan bau busuk yang menusuk hidung.

“Waktu kejadian, saya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit Korem dengan ambulans ini. Kalau saya tidak tancap gas sekencang-kencangnya, saya mungkin sudah jadi korban tsunami, Bang…”, ujar sopir ambulans dengan ekspresi wajah mengerikan.

Namun sekejap ia tersenyum syukur karena lolos dari peristiwa tersebut. Hidup dan kematian memang sebuah misteri. Batas pemisahnya setipis pengetahuan kita tentang kapan, di mana, dan bagaimana mati menjemput kita. Mungkin itulah yang digambarkan oleh filsuf Jerman, Karl Jaspers sebagai Grenzensituation, situasi batas antara hidup dan mati.

Tak terasa ambulans yang kami tumpangi mulai memasuki jantung Kota Meulaboh yang rusak parah. Sekali dua kami berpapasan dengan truk tentara yang penuh dengan tumpukan kantong plastik berisi mayat yang akan dimakamkan secara missal di daerah Bergang, sekitar 16 kilometer dari pusat Kota Meulaboh.

Setibanya di Markas Kompi C, kami langsung menghadap Komandan Korem 012 Teuku Umar yang sekaligus Komandan Satkorlak Penanggulangan Bencana Gempa dan Tsunami di wilayah Korem 012 Teuku Umar, Kolonel Geerhan Lantara. Belum lagi kami sempat memperkenalkan diri, perwira AD yang berpengalaman di daerah konflik itu berteriak lantang, “Mana orang dari tim Advance AGP..?”

Saya yang berdiri percis di hadapannya langsung memperkenalkan diri dan rombongan tim advance AGP. Sambil tersenyum kocak, Danrem berpesan kami menyesuaikan diri dengan situasi Meulaboh yang serba darurat. “Saya bangga kalian bias sampai di Meulaboh. Tetapi jangan minta akomodasi sekelas hotel bintang lima yaa..”, katanya bergurau.

Kami mengenal Kolonel Geerhan sebelumnya dari cerita beberapa rekan yang pernah bertugas bersama di Timor Timur, ia perwira yang tegas, berani dan berkarakter, tetapi memiliki sense of humor yang tinggi. Geerhan tergolong pribadi yang tenang dan tidak gampang panik. Itu yang kami tangkap dalam perkenalan pertama. Kombinasi itu membuat Geerhan menjadi semacam icon yang menarik di tengah mozaik Meulaboh yang rusak

Selepas makan siang, kami berjalan kaki ke Kecamatan Johan Pahlawan, sebuah kawasan di Kabupaten Aceh Barat yang paling parah dihantam gempa dan tsunami. Jalan-jalan dipenuhi Lumpur dan puing-puing bangunan, sehingga sulit dilalui dengan mobil. Rumah-rumah, terutama yang terbuat dari kayu, ambruk. Hanya satu, dua bangunan tembok yang masih berdiri. “Waktu itu saya kira sudah kiamat, karena tiba-tiba air bah datang. Rumah kami roboh dihantam kapal nelayan. Padahal jarak rumah kami dengan pantai cukup jauh,” kata H. Supandi, warga Kecamatan Johan Pahlawan.

Perjalanan kami lanjutkan ke daerah Simpang Pelor, sebuah kawasan yang berada persis di Jantung Kota Meulaboh. Di sana kami menyaksikan mobil yang terlempar ke atas atap bangunan, tepat bersebelahan dengan Gedung DPRD Aceh Barat. Tak Cuma itu, di sana kami juga melihat perahu nelayan ukuran besar-kecil yang terhempas ke daratan dan salah satunya hampir merenggut nyawa Danrem 012 Teuku Umar Kolonel Geerhan pada menit-menit pertama badai tsunami mengamuk di Meulaboh.

Hati saya galau menyaksikan Kota Meulaboh yang hancur. Dan, kegalauan hati saya semakin menjadi-jadi karena tragedy itu menelan korban belasan ribu jiwa. Meulaboh waktu itu lebih tepat digambarkan sebagai Kota Kematian, karena sepanjang mata memandang yang terlihat adalah mayat bergelimpangan di jalan, tersangkut di pohon atau terhimpit bangunan yang roboh. Kejadian yang paling menyentuh adalah ketika “Pasukan Pemburu Mayat” dari TNI dan Palang Merah Indonesia (PMI) menemukan jenazah seorang ibu yang sedang memeluk anaknya yang berumur satu tahun di bawah reruntuhan bangunan. “Saat itulah pertama kali saya menangis, setelah tidak pernah menangis sejak beberapa tahun lalu,” kata Danrem Kolonel Geerhan.

Menangis atau hati tersentuh adalah respon yang paling manusiawi ketika kita menyaksikan sebuah tragedi. Terlepas apakah tragedi itu menimpa diri kita atau diri orang lain. Karena itu, saya heran bila ada orang yang tidak tersentuh hatinya, atau tidak mau menunjukkan simpatinya kepada saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di NAD dan Nias. Cut Nyak Dien dulu pernah bertanya, “Terbuat dari apa hati orang yang berkhianat kepada bangsanya..?”. Kini, melalui tulisan ini saya ingin bertanya, “Terbuat dari apa hati orang yang tidak tersentuh dan tidak memiliki kepedulian terhadap nasib saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Meulaboh..?”.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s